Selasa, 12 Februari 2013





"Kampuang nan jauah dimato

gunuang sansai bakuliliang"


DESAKU

Mungkin sepenggal lagu tersebut mengingatkan kita akan keadaan sebuah desa yang masih asri, tempat kelahiran yang kita banggakan, tempat menetap ayah dan ibu kita, tempat kita merasakan keriangan semasa kecil. Sungainya nan jernih tempat pemandian kita dimasa lalu, padangnya yang luas tempat kita mengembala ternak. Meski desa itu telah jauh dari raga dan pandangan mata kita, bukan berarti akan jauh dari pandangan mata hati.

 

Sulit untuk melupakan kenangan semasa kecil,belajar mengaji bersama, sekolah bersama, bahkan mandipun selalu bersama-sama. Sawahnya yang luas dengan hembusan angin segar sanggup menyejukkan hati ketika lara dan jiwa kita sedang menangis. Samar-samar indahnya langit biru dihiasi oleh hijaunya pepohonan bukit dan diiringi dengan suara nyanyian burung dipagi hari.  


Kini desa kita seakan menangis karena telah banyak ditinggal pergi oleh saudara-dan kerabat tercinta. Entah karena tuntutan hidup, bosan atau sekedar mencari pengalaman di negeri orang. Namun patut kita sadari merantau sudah menjadi tradisi dari nenek moyang kita. Harap “tabangkik batang tarandam, harap nasib lai kabarubah, namun semua kita kembalikan lagi bahwa “ satinggi-tinggi tabangnyo bangau, pulangnyo kakubangan juo” . Mungkin kita bisa menemukan kebahagian materi dinegeri orang, tapi kebahagiaan nan hakiki dengan ketengan jiwa hanya akan ada di negeri sendiri. 

 

MERANTAU

 

Merantau adalah perginya seseorang dari tempat dimana ia tumbuh kewilayah lain untuk menjalani kehidupan ataupun pengalaman. Banyak faktor yang mendorong orang-orang untuk pergi dari tempat asal atau kelahirannya diantaranya, faktor tradisi atau budaya suatu kelompok etnis, juga faktor ekonomi, pendidikan, bahkan peperangan.Meski sebuah kata itu sudah menjadi tradisi dan budaya kita, namun adakalanya  berubah menjadi tragedi. Seorang anak laki-laki akan dianggap putra kebanggaan jika mampu merobah nasib pribadi maupun keluarganya. tapi akan jadi bahan ejekan jika pulang kampung tak sanggup membawa perubahan. begitu juga dengan perempuan, akan jadi putri kesayangan jika ia mampu mempertahan adat istiadatnya dinegeri orang, tapi akan jadi bencana jika pulang kampung hasilnya berbadan dua. 

 

ANDAI.................(prinsip) 

 

Apa yang terlintas dalam pikiran anda jika sahabat yang anda sayangi tidak menerima curahan hati yang ingin anda utarakan?. Apa yang terselip dalam kata hati anda jika kerabat tercinta tidak mau mengerti dengan jalan hidup yang anda pilih?. dan apa yang anda rasakan jika pria/wanita yang anda pilih untuk mendampingi hidup anda dalam mangarungi samudera kehidupan tidak menghormati atas apa yang telah anda korbankan.?. jika hal ini terjadi pada diriku, tiada kata lain bahwa " ITULAH KEHIDUPAN".

 

 

mengutip sebuah nyanyian " Dunia panggung sandiwara" ada benarnya.Tidak semua planing bisa mendapatkan suport dari para sahabat, tidak semua prinsip bisa direstui kerabat terdekat, dan tidak semua pengorbanan bisa diterima oleh istri tercinta, bahkan tidak semua keinginan mampu kita wujudkan. Intinya tidak semua niat baik bisa dianggap baik oleh orang lain. Inilah skema sebuah kehidupan, loyalitas tidak cukup menggambarkan arti persahabatan, Komunikasi tidak cukup untuk menggambarkan kecintaan terhadap kerabat, dan pengorbanan tidak dihargai jika keinginan sang Suami/istri tidak mampu terujudkan. Orang bilang " tidak ada masalah yang tak bisa terselesaikan" aku sangat menyetujui sebuah ungkapan itu. dan bukan berarti kita berputus asa jika belum sanggup untuk mencari jalan keluarnya. Bagiku hidup tak ubahnya bagaikan menelan air laut, harap dahaga hilang, yang terjadi malah sebaliknya. kering dan semakin haus.

 

 

Bagai air didaun keladi, inilah realita hati manusia yang tidak memiliki ketulusan hati dan pikiran. Sewaktu-waktu kita jadi pujian dan ada kalanya kita terabaikan. namun dibalik semua itu Komunikasi interpesonal dan silaturahhmi terkadang tidak mencukupi jika tidak disertakan dengan pemberian kita. So... Hidup adalah perjalanan, Tujuan yang sesungguhnya adalah hubungan kita dengan Tuhan, Karena Tuhan Tidak pernah salah menilai hambanya. Manusia??, ( jika prinsip yang kita jalani masih dalam kodrat Tuhan, Persilakan manusia menilai). Toh, hidup akan tetap berjalan .


Tidak ada komentar:

Posting Komentar